eksistensi tuhan sering kali diperlakukan seperti sebuah pertanyaan dengan dua kemungkinan.
ada.
atau tidak ada.
lalu muncul angka yang terlihat netral.
50:50.
mungkin ada.
mungkin tidak.
seolah-olah kita sedang melempar sebuah koin.
tetapi ada sesuatu yang terlupakan.
koin memiliki dua sisi.
karena itu kita dapat berbicara tentang kemungkinan munculnya angka atau gambar.
ruang kemungkinannya sudah ada sebelum koin dilempar.
probabilitas tidak menciptakan kemungkinan.
ia hanya mengukur kemungkinan yang sudah didefinisikan.
hal yang sama berlaku pada dadu.
kita dapat mengatakan peluang munculnya angka enam adalah satu dari enam.
bukan karena angka enam mungkin secara abstrak.
tetapi karena kita sudah mengetahui apa yang sedang dilempar, berapa banyak hasil yang mungkin, dan bagaimana hasil tersebut dibentuk.
ruang sampelnya jelas.
tanpa itu, angka satu dari enam tidak memiliki arti.
kita tidak dapat mengambil sesuatu yang tidak memiliki ruang kemungkinan, lalu memberinya angka hanya karena kita ingin terlihat netral.
namun ketika pertanyaannya berubah menjadi eksistensi tuhan, hal tersebut sering dilakukan.
“mungkin ada.”
“mungkin tidak.”
“jadi 50:50.”
tetapi dari mana angka 50 itu berasal?
di mana 100 kemungkinan yang menjadi dasar pembagiannya?
apa isi dari sample space tersebut?
dua keadaan?
seratus keadaan?
tak terhingga?
kita tidak tahu.
dan jika kita tidak tahu ruang sampelnya, angka 50:50 bukanlah hasil perhitungan.
ia hanya sebuah cara untuk mengatakan bahwa kita tidak tahu.
itu dua hal yang berbeda.
ketidaktahuan tidak otomatis memiliki probabilitas lima puluh persen.
ketika sebuah pesawat hilang dan kita tidak tahu keberadaannya, kita tidak mengatakan peluang pesawat tersebut berada di setiap tempat adalah sama besar.
kita mencari data.
terakhir terlihat di mana.
arah penerbangan ke mana.
berapa bahan bakarnya.
bagaimana kondisi cuaca.
berapa banyak lokasi yang mungkin.
kemudian barulah kemungkinan dapat dipersempit.
probabilitas membutuhkan sesuatu untuk dihitung.
bahkan prediksi cuaca memiliki dasar.
awan.
angin.
tekanan udara.
suhu.
data historis.
semuanya merupakan bagian dari realitas yang dapat diamati.
lalu kembali ke pertanyaan awal.
jika tuhan didefinisikan sebagai sesuatu yang berada di luar alam semesta, apa sebenarnya ruang sampelnya?
berapa banyak keadaan yang dapat diamati?
berapa banyak data mengenai keberadaan atau ketidakberadaannya?
berapa banyak percobaan yang dapat dilakukan?
berapa banyak observasi independen yang dapat dibandingkan?
jika jawabannya tidak ada, maka masalahnya bukan bahwa probabilitasnya rendah.
masalahnya adalah perhitungannya belum memiliki tempat untuk dimulai.
tidak ada koin.
tidak ada dadu.
tidak ada ruang yang berisi kemungkinan-kemungkinan yang dapat dihitung.
hanya ada sebuah pertanyaan.
dan sebuah pertanyaan tidak menjadi probabilitas hanya karena ia memiliki dua jawaban.
“ada atau tidak ada” bukan berarti “50 persen atau 50 persen”.
sebuah pintu juga hanya memiliki dua keadaan.
terbuka atau tertutup.
itu tidak berarti masing-masing memiliki probabilitas lima puluh persen.
kita tetap membutuhkan informasi tentang pintu tersebut sebelum probabilitas dapat dihitung.
jadi mungkin angka 50:50 sebenarnya bukan posisi tengah.
mungkin ia hanya sebuah angka yang diletakkan di atas ruang kosong.
dan ketika ruang sampelnya tidak pernah didefinisikan, kita tidak sedang menghitung kemungkinan keberadaan tuhan.
kita sedang menghitung sesuatu yang belum memiliki dasar untuk dihitung.
a probability is a fraction of a known reality.
without that reality, probability has no ground to stand on.
so perhaps the more accurate answer is not:
“50:50.”
but:
“there is no probability to calculate.”