Tidak semua manusia merasa perlu memiliki bias. ada yang merasa cukup dengan realita, dengan segala konflik dan keindahannya. tapi bagi mereka yang mendedikasikan waktu dan emosi untuk seorang idola, ini jauh lebih dalam dari sekadar kekaguman visual. ini adalah sebuah kompromi psikologis.
memilih seorang bias adalah cara sebagian manusia untuk mencicipi intimacy tanpa harus berhadapan dengan bahaya.
membangun koneksi dengan manusia sungguhan selalu menuntut biaya emosional. manusia di dunia nyata punya ego, bisa salah bicara, bisa menuntut banyak hal, dan memiliki kebebasan absolut untuk pergi kapan saja. mencintai di dunia nyata berarti bersiap untuk menyerahkan kendali dan menjadi rentan.
figur di layar kaca memotong semua risiko tersebut. mereka hanyalah sebuah kanvas kosong—wadah tak bersuara yang hanya ada untuk menerima semua proyeksi dan fantasi penggemarnya, tanpa bisa membalas apalagi membantah.
karena mereka tidak ada di dunia keseharian sang penggemar, mereka tidak akan pernah membantah, marah, atau mengecewakan di hari-hari yang buruk. seseorang bisa menuangkan seluruh rasa sayangnya tanpa ada tuntutan untuk berkompromi. jarak ribuan kilometer dan batas layar kaca bukanlah sebuah halangan, melainkan perisai. jarak itu memastikan bahwa sang idola tidak akan pernah punya kesempatan untuk menghancurkan hati penggemarnya.
ini adalah ilusi kendali yang sangat menenangkan. sebuah hubungan di mana satu pihak bisa memberikan segalanya, sambil tahu persis bahwa mereka tidak akan pernah ditolak atau ditinggalkan.
pada akhirnya, manusia-manusia ini tidak sungguh-sungguh jatuh cinta pada figur asli di panggung sana. mereka jatuh cinta pada rasa aman. mencintai sebuah bayangan yang dikurasi sedemikian rupa, karena mencintai manusia yang nyata terkadang terlalu berisiko untuk dijalani.