hanzo, the soul harvester

tidak ada yang lebih menyedihkan dari manusia yang mengira dirinya adalah tuan, padahal ia hanyalah sebuah alat.

hanzo dulunya adalah definisi mutlak dari pengabdian. sebagai yatim piatu yang dipungut oleh scarlet shadow—sebuah klan ninja kuno yang terpecah dalam berbagai faksi kekuasaan—ia menyerahkan seluruh hidupnya untuk jalan ninja yang menjunjung tinggi keadilan. ia adalah eksekutor paling mematikan yang dimiliki klan tersebut; sebuah senjata yang rela membiarkan tubuhnya robek demi menyelesaikan misi.

semua orang tahu, di masa depan, hanzo hanya akan tunduk pada satu orang: kurēn.

kurēn bukan sekadar pewaris takhta klan. jika hanzo adalah otot dan insting pembunuh dari scarlet shadow, maka kurēn adalah otak dan kebijaksanaannya. ia adalah calon pemimpin masa depan, satu-satunya orang yang dihormati hanzo. hanzo pernah bersumpah, jika kurēn naik takhta kelak, ia akan menjadi pisau paling tajam untuknya.

sampai akhirnya hanzo menyadari apa yang sebenarnya dikubur dalam kegelapan klan mereka.

ia menemukan fakta bahwa teman-temannya sesama yatim piatu tidak pernah gugur dalam misi. mereka dikorbankan. faksi-faksi di dalam klan secara diam-diam melemparkan nyawa manusia untuk memberi makan sebuah artefak kuno: ame no habakiri.

ame no habakiri bukanlah pedang biasa. ia adalah satu dari tujuh senjata suci peninggalan masa lalu, sebuah benda terkutuk berisi pusaran ribuan jiwa kelaparan yang membutuhkan tumbal darah dan jiwa agar kekuatan aslinya bangkit.

di ruang bawah tanah tempat pedang itu disegel, kurēn memergokinya. sang pewaris akhirnya mengakui semuanya. namun, berbeda dengan hanzo yang terbakar amarah, kurēn memilih jalan politik. ia meminta hanzo untuk menunggu—bersabar hingga ia resmi menguasai klan agar ia bisa menghapuskan tradisi busuk itu secara perlahan dari dalam.

bagi hanzo, itu adalah kompromi yang menjijikkan. "meraih pengaruh" dan menunggu waktu yang tepat hanyalah bahasa halus bagi para pengecut yang tidak punya keberanian untuk membuat luka pertama.

malam itu, hanzo menolak diam. ia merampas pedang iblis tersebut. saat pusaran jiwa di dalam ame no habakiri mencoba menelannya, amarah dan arogansi hanzo justru menundukkannya. ia menebas leher kurēn—mematikan satu-satunya orang yang pernah ia hormati—lalu membelot dari klannya, berjalan pergi dengan satu sumpah: ia akan menjadi iblis yang memotong habis seluruh kebusukan scarlet shadow.

ia percaya dirinya telah menang. ia berdiri di atas darah klannya sendiri, merasa menjadi pemberontak yang agung.

ia mengira ia telah memutus rantai tersebut. padahal, pada detik jari-jarinya menggenggam gagang ame no habakiri, ia hanyalah inang yang baru.

iblis di dalam pedang itu tidak pernah peduli pada faksi, kemunafikan klan, atau balas dendam. ia tidak butuh alasan heroik apalagi keadilan. ia hanya peduli pada satu hal: rasa lapar. dan hanzo, dengan segala kebenciannya yang menyala-nyala, adalah pelayan paling efisien yang pernah pedang itu temukan.

hanzo muak melihat para tetua mengorbankan manusia tak bersalah untuk memberi makan pedang itu. tapi lihatlah apa yang ia lakukan sekarang. ia berkeliling menebas leher demi leher, memanen jiwa setiap hari untuk memastikan pedang di tangannya tetap kenyang, sambil terus meyakinkan dirinya sendiri bahwa semua ini ditumpahkan atas nama jalan ninja yang sejati.

ketika malam kembali sunyi, realitanya jauh lebih kelam. hanzo tidak pernah menghancurkan kebusukan klannya. ia hanya memonopolinya.

sebuah ironi yang paling tragis: ia menolak melihat orang lain memberi makan sang iblis, maka ia memutuskan untuk menyuapinya sendiri.